[Video] Indonesia Terbalik


Suka Berbicara Bahasa Asing = Tidak Cinta Indonesia?

Reblogged from Rachmat Fathoni:

Malam ini ada perbincangan menarik di Grup Teknik Mesin 08, seperti halnya forum-forum di tempat lain, selalu ada perdebatan kecil antar di dalamnya. kali ini topiknya : “Suka mencampur-campur Bahasa Indonesia dengan bahasa asing sama dengan tidak cinta Indonesia”

Menarik, karena saya objek yang diserang HAHA. karena saya yang suka mencampur-campur bahasa indonesia dengan bahasa asing, atau malah berbahasa asing, dianggap tidak nasionalis, tidak menghormati sumpah pemuda, dll.

Read more… 548 more words

This defines what reblog is. Same thing happened to me.(Ini lah apa yang disebut dengan reblog. Hal yang sama terjadi pada gue.)

Again.. Levitating..

Okay, let’s say that I am addicted of making levitation photograph. I gotta admit that this is fun yet exhausting since I had to set myself in such a gesture, and keep a pokerface expression although I then gotta lose some breath..

It was also done not just once but in about 150 taking which spent half an hour..


Me.. Levitating..

Saking seriusnya ngerjain TA..

Me while trying so hard to understand a journal for my final project..


Making Passport via Online Application. Say no to Calo! Say no to Corruption!

Just a situation in front of Bandung Immigration Office just bfore gate opening.-- No use of Instagram, the effect just to make it so-today. haha.

For the last two days, I happened to have myself busied with extending my passport validity period which is the same procedure as making the new one. Dealing with government’s bureaucrations, procedures, or administratives  is enough to leave you with an eerie impression since it’s almost everyone’s knowledge that it will spend your lifetime long. You have to set yourself (read: your sanity) through the queue that we don’t even know when we will be called to process our application and even arm yourself with fully charged iPod or any entertainment devices or even a mat in case you have to stay through the night in order to have your application proceed. Cast the curse to those Middlemen/Calo (indonesian term) who always get into our way. Sorry, too much exaggerating.

But..

Instead of facing that kind of situation, the latter 2 days of mine has been so good so far. I spent only one and a half  hrs in two visits (the first visit took me 1hr, and the 2nd was a half). The procedure, a bit confusing but still okay, the immigration office was tidy but way too small for people that many. The queue that so systemized with a-woman-calling-your-queue-number-voice. It was good. But apparently, the luck was all mine (and some people who did the same way as me) because I’ve skipped some process through online application. For those who had not made it online, the situation is different, the queue was so long. Eerie! Just imagine when I got there, the online queue number (which was mine) was still C 001, which means the first person came that day (with online app), meanwhile for those who came there through manual application, the number had reached 50.

It means..

there are not so many people using this online way to make their passport. Why people, why? Ya, but thanks to you for giving the way faster to me. (Halo Gema mau lewat) heheh..

Then, I want to appreciate the innovation that the government has made so far in reducing Calo’s intervention here. And the shorter time it needed to go along with the legal procedure.

Anyway, although there’s this very-much-easy way to make your passport, I still had this view of some Calo offering their service and some people who decided to use it. Come on people. Stop cursing those dirty bureaucrats ‘corruptor’ when you yourself are getting urself fouled with such deed. It’s just the same with you cursing those immature representatives at DPR and becoming apathetic with it. There’s nothing changing with such attitude.

I mean, if it is not started from yourself and hoping for the world to change for you so you only will change yourself afterward, I tell you, it’s just a non-sense. I understand that some situation force us to be because of the prisonner’s dilemma (when you initiate to change for the better but the surroundings perceived the now-situation as the best eventho it’s worse than your initiative. eventually you find yourself stuck with it, and the situation remains status quo).

However, one thing that we could take it as a reflection in this case is, you gotta believe that the change is actually in your hands. There’s the way anyway, so why still messing up with the illegal ones?


Hologram di Paspor Nyala Semua Kena Blitz! Cool!

Hologramnya nyala dan datanya gak kelihatan. Teknologi anti pemalsuan nih rupanya. Coolness!


How to Focus in The Age of Distraction. (yak yang lagi TA..)

How to Focus in The Age of Distraction. (yak yang lagi TA..)

Taken from a share at Facebook.


Cerita Usus Buntu part 4 (end): Post Operasi Perut Gue Semakin Kencang!

6 hari 5 malam gue nginep di Rumah Sakit Dharma Nugraha di Rawamangun. Enak ga enak sih, enaknya adalah makanan dateng sendiri ke tempat tidur, tapi lo jalan-jalan tuh gak bisa.

di ICU, gue baru ngerasa bahwa yang namanya Kentut tuh sangat berharga. Karena habis operasi buka perut, kalau belom kentut gak boleh minum ama makan. Alasannya adalah karena obat bius yang disuntikin ke badan itu gak cuma melumpuhkan badan lo aja tapi juga organ-organ di dalem tubuh lo termasuk usus. Dan si usus ini sepanjang hari selalu melakukan gerak peristaltik atau meremas-remas. Tapi, karena kena obat bius si usus ini istilahnya ‘tertidur’ gitu. Nah, ternyata meskipun kita udah bangun dan sadar dari biusan, usus ini masih tetap malas bergerak sementara itu isinya kosong, alias cuman isi angin. Nah ketika dia udah mulai gerak lagi, saat itulah gue teriak ke suster di tengah siang bolong yang sepi parah, “SUSTERRR!!! SAYA KENTUTTTT!!!”. Bro n sis, lo tau kan ya, ruang ICU tuh ga ada tv ga ada suara apapun, sunyi senyap, makanya gue gak heran orang masuk ICU pada mati semua, meanwhile gue teriak-teriak kaya gitu, “SUSTER!! SAYA BARUSAN KENTUT!“. Bodo amat gue gak malu, GUE AUSSSS!!

Tapi apa coba kata susternya, “Bentar ya gema, nanti tunggu dokter dulu kamu boleh makan minum atau belum“. Dafuqqqqqqqqqqqqqqqq!! gue udah menunggu berjam-jam biar bisa minum :( sedih.

Ketika gue dipindah dari ICU ke ruang perawatan biasa, itu badan rasanya masih agak lemes, rambut berminyak karena gak pernah mandi, dan kumis dan jenggot udah menjuntai-juntai sampe lantai (yang terakhir boong, tapi lebat sih, udah makin mirip engkoh-engkoh deh.) Terus si perut ini rasanya masih suka perih-perih dan gue gak ngerti yang sakit itu jahitannya atau isinya.

Emang deh, yang namanya post operasi tuh pasien butuh banget dukungan semangat dan moral, karena gue udah kepikir yang engga-engga, apakah operasi gue berhasil? apakah jahitan di dalam perut gue brodol? apakah selamanya gue akan terkapar di atas kasur? Walaupun kadang semua kekhawatiran gue itu mungkin gak terjadi, tapi bayangan-bayangan buruk tuh selalu lewat dan seiring berputarnya jarum jam semakin lebay. Jadi maklum aja kalo pasien jadi kekanak-kanakan waktu dirawat.

Anyway, ketika akhirnya gue boleh makan, wuh gue semangat banget. ENAK banget sih makanan rumah sakit, gue pikir kaya di Borromeus (ketawan pernah nyicip) yang semua makanannya anyep alias ga ada rasanya. Ini beneran deh, enaknya super. Dan satu yang gue heran pada saat itu, gue abis operasi usus kok dikasih makannya udah hardcore begini ya, ada ayam, daging semur, terus sayur buncis-wortel yang kalo digigit renyah krauss-krausss.. gitu. Makanan pertama gue waktu itu dikasih pada waktu makan malam. Tidur gue nyenyak enak deh.

Besoknya, gue tiba-tiba mules gak tau kenapa banget. Serius itu perut perihnya minta ampun. Kekhawatiran muncul lagi. Yang heboh siangnya. Gue muntah-muntah! Dan lo semua harus tau, secara jahitan di perut gue belum kering, setiap batuk, atau bersin tuh sama dengan neraka. Perut lo mengejan dan jahitan lo ketarik semua. (FYI aja gue pernah baca kalo setiap bersin, manusia tuh ngeluarin angin dengan kecepatan 100km/jam kalo gasalah ya, jadi bayangin aja gimana perut lo menekan supaya udara keluar sehingga jahitan lo ketarik) Nah, ini apalagi gue muntah, itu perut mengejan berkali-kali, dan sesaat setiap gue habis muntah jahitan ketarik, teruss aja kaya gitu. T_T Nyiksa banget deh.

Akhirnya hari itu makan siang dan malam gak gue makan, enek banget nyium bau opor dan semur, meskipun enak tapi tiap nelen muntah, nelen lagi muntah lagi. dan lebih neraka lagi, setiap muntah jahitan gue ketarik-tarik. :(

Tapi alhamdulillah besoknya gue udah kembali seperti biasa lagi, dikasih pencahar yang dimasukin lewat anus sama suster.. aku jadi malu

Suster berkali-kali tiap mandiin gue di tempat tidur dan ngasih makan nyuruh gue jalan. Akhirnya gue berusaha untuk mulai jalan..

1st attempt… Dibantuin nyokap, gue mau nangis rasanya, karena ngangkat badan gue untuk bangun dari posisi berbaring tuh gak bisa. Gue mau nangis karena gue lagi-lagi khawatir dan otak logis gue berpikir kalo ternyata tendon otot di perut gue udah dipotong waktu operasi sehingga dia gak punya kekuatan lagi untuk mengangkat separuh badan atas gue. T_T gue gak mau seumur hidup setiap pagi dibantuin ngangkat badan..

Akhirnya bisa sih ngangkat badan, tapi begitu posisi badan gue udah duduk, tiba-tiba pandangan gue gelap, seisi ruangan menghilang dari pandangan, efeknya kaya fading out dari atas ke bawah gitu. Gils! Gue hampir pingsan. Kayanya darah dari otak gue mendadak kehilangan suplai darah karena gue bangun. Untung gak sampe pingsan sih, cuman gue lagi-lagi khawatir, apa jangan-jangan jantung gue melemah sehingga ngalirin darah ke otak aja ga kuat..

2nd attempt … Gue bisa duduk lagi, yaay! Tapi dari posisi berbaring gue ga bisa langsung narik badan gue ke atas, karena jahitannya kerasa sakit. Jadi gue harus merengin badan sambil tiduran ke arah samping baru deh narik ke atas. Eh begitu gue nginjek lantai, itu gue gemeteran dong, ni kaki kaya baru pertama kali jalan aja dah. Sumpah serem. Tapi terus gue pake jalang sambil ratap-ratap tempat tidur gitu aja udah pusing, terus gue tiduran lagi deh abis itu..

3rd attempt … Gue bisa jalan-jalan yay dari tempat tidur ke kamar mandi, trus liat-liat pemandangan di balkon kamar, trus ngintip2 lewat pintu kamar ke koridor rumah sakit gitu. Tapi suka pusing-pusing gitu. DAN jalan gue ga bisa tegak, udah kaya kakek-kakek! Karena nih pemirsa, setiap gue menegakkan badan gue, itu jahitan di perut rasanya suakittt banget! Kencang! Aneh padahal buncit tapi rasanya kenceng banget, si jahitan tuh terus menerus memaksa badan gue untuk tetap membungkuk.

—-

Selama sebulan setelah operasi, bahkan setelah gue kembali ke Bandung untuk beraktivitas, ternyata jalan gue masih gak bisa tegak. Udah mirip punakawan atau semar gitu, pantatnya jenthit ke belakang sambil berusaha tegak gitu. Aneh abis deh bentuk badan gue.

Setiap gue berbaring, gue masih gak bisa langsung gitu ngangkat separuh atas badan gue serta-merta. Harus mereng dulu ke samping, terus bangunnya nyamping juga. Selain itu, setiap gue mereng kanan atau kiri, itu rasanya isi perut lo pun juga akan ikut pindah. Jadi kalo gue tiduran mereng ke kanan, maka isi usus lo rasanya mengalir juga ke dasar perut lo di sebelah kanan, begitu juga kalo mereng ke kiri. Hih. Serem!

Yang sedih lagi, kalo lo tiduran di atas bidang yang sangat flat seperti misalnya lo tiduran di lantai, lo gak bisa tidur bener-bener lurus kaki selonjoran gitu. At least gue harus nekuk lutut gue, supaya jaitan gue gak ketarik. Iya! Si jahitan gue itu udah kaya benda hidup yang ga suka diregangkan. gak bisa nih tiduran kaya gini..

>——–|—O

harus kaya gini, lututnya nekuk.. (O itu kepala)

_/\____O

kalo lo tengkurep, terus berusaha back up (lawannya sit up) itu gak bisa. Karena perut lo kenceng bangettt bener-bener gak lentur lagi kaya sedia kala…

Ini adalah foto-foto abis operasinya hehee.. BB17+ nih!

Ini diaa bekas jahitannya. Si makhluk yang selama 1 bulan gak mau diregangin dan kerasa kenceng terus. hehee

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Itu bekas selang drain. Intinya yaudah selang kaya yang di aquarium gitu aja dicolokin ke situ buat ngeluarin sisa-sisa darah dansebagainya..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

__________

Alhamdulillah seenggaknya sejak sebulan setelah operasi sampe sekarang kehidupan gue udah kembali normal, kecuali…

“Dok, ini perut saya kan ototnya dipotong sama dokter pas operasi, masih bisa six packgak? Kalopun bisa ntar kan bentuknya gak beraturan ya, Dok? (harap-harap cemas sama jawabannya)”, “Tenangg,, kan itu saya motongnya persis ditengah perut, lagipula badan kita tuh hebat dia bisa nyambung sendiri ke jaringannya dia yang semula”. 

Hufffffffffffffffffffftttttttttttttttttttttehhhhhh…

“Dok, saya kan hobi berenang tuh, kapan saya boleh berenang lagi?”, “Ntar.. 6 Bulan lagi..” :(

“Dok, kalo fitness boleh gak?”, “Pake alat ya? Jangan dulu! 1 tahun lagi lah palingan, gak papalahh gendut-gendut dikit..” :3

kata dokter gue, “Kamu gak boleh kecapean ya, ga boleh angkat-angkat benda berat sampe setahun”

Di satu sisi yesss gue bisa ngeles kalo lagi berat-berat hahahahhh >:), tapi di sisi lain lama jugeak yeah setaonnn..

Anyway pembaca ku yang budiman, sampe sekarang emang bener sih, kalo gue kecapean, atau begadang ngerjain tugas ampe pagi tuh ya, rasanya nih jahitan gatau deh kok suka rasanya ckit-ckit.. gitu gue ga ngerti gimana jelasinya pokoknya suka nyelekit gitu kaya ditusuk2 jarum2 kecil, gak sakit sih, paling kaya digigit-gigit semut gitu.

Yah.. mau gimana lagi, konsekuensi lah abis operasi besar gitu kan?

Nah, pembaca ku yang soleh dan solehah, intinya gausah takut kalo mau operasi besar cem gue gini. Dan jangan banyak pikiran berlebihan, kalau berasa kok gue gak pulih-pulih seenggaknya memang 1-2bulan post operasi fungsi-fungsi tubuh kita belom kembali sepenuhnya normal. Dan itu sangat normal kok. Yang penting jangan kecapekan dan makan-makanan bergizi aja jadi jaringan otot yang dipotong sama dokter bisa lekas tumbuh lagi dan luka nya nutup. :)

akhirnya selesai juga rangkaian Cerita Usus Buntu ini..


Macaroon A La Kokoh Gema Satria.

Gue sampe ngetik ini tuh masih terharu, terimakasih kepada mama, adik, keluarga, dan fans-fans akoh semuanya yaah.. HARI INI GUE BIKIN MACAROON yang lagi ngehits banget ituuuu! Awalnya gue emang mau latihan aja gitu bikin kue ini soalnya waktu itu pernah sama temen gue punya ide buat bisnis kue yang lagi in ini. Kok ya dapet gitu lho ya resepnya, trus Allah Subkhanakhuwata’ala kok ya melancarkan perjalanan gue membeli bahan-bahan yang tertera di resepnya.. EKOK YA MACAROON GUE rasanya kenyal, dan secara visual ada ‘kaki’ nya sebagaimana yang biasa ada di Bakerzin. Terharu.. :’)

Dan inilah dia macaroon hasil karya gue..

Masih berpentil, nggak bulet, dan ada yang kembar siam. (ada juga yang kreasi gue sendiri panjang di paling kiri) haha

Masih di panggaaanngg!

Ini dia! Macaroons ala Kokoh (chef) Gema!

Jadi berasa Chef Edwin Lau. Badan gempal berotot, jago masak, dan, cina. It’s so me. :p

_______________________________________

di-post langsung dari dapur (karena masaknya sambil nyontek resep di laptop)


Apa aja yang musti lo siapin buat masuk Plano?

Ugh berat nih. Gue ngeblog ginian gara-garanya ada satu orang googling-an trus mengarah ke blog gue ini dengan keyword kaya gini nih..

Laptop buat anak Plano?

 

 

 

 

 

 

 

Yah okelah, laptop atau komputer emang hari gini ga bisa jauh-jauh deh. Nnnah kali ini gue mau share-share aja nih apa yang ada di otak gue dulu aja kira-kira apa aja yang musti lo siapin kalo mau masuk jurusan ini. nnnehhh deaaa:

1. Laptop

bener banget nih. Laptop emang harus banget punya. Kalo lo kuat bawa PC sih ke kampus ya gapapa, yang penting ngerjainnya harus pake komputer. Laptopnya harus kuat nahan software grafis kaya AutoCAD dan Google SketchUp. Juga software peta-petaan ArcGIS. Selain itu, karena jurusan ini ngutamain yang namanya poci-poci (karena kita kan jualan ide/konsep) harus banget punya software buat bikin presentasi. Semakin bisa bikin presentasi menarik semakin bagus lah dia. FYI aja nih laptop gue sekarang Hewlett-Packard G42 361-TX. Tapi banyak juga kok yang pake netbook, tenang. Trus kalo gapunya laptop gimana? Tenang, harusnya di kampus-kampus sedia tuh yang namanya Labkom, atau seenggaknya kaya di kampus gue yang namanya beasiswa tuh berbagai macam rupa sampe anak-anaknya ditarik-tarikin buat nerima. Ada niat ada jalan, bre.

2. Koneksi Internet

Hari gini kayanya gausah Plano doang deh, Internet mah udah kebutuhan yang attached sama kebutuhan komputer. Gila ya yang namanya bagi-bagi literatur, e-book, e-journal, trus juga kalo yang namanya lagi ada di satu kelas satu matakuliah tuh biasanya suka bikin milis juga apalagi kalo Studio. Secara koordinasi informasi tuh harus satu kali pencet semua tau. Gitu sih. Parah lah kalo ga ada internet. Butuh juga buat cari-cari kasus terkini, nyari dokumen Undang-undang misalnya, wuah macem2.

3. Ketertarikan sama dunia sosial, ekonomi, dan politik

Biar kata kelar-kelar dapet gelar Sarjana Teknik, tapi tekniknya plano tuh mungkin cuma 50%nya. atau bahkan 40%nya, sisanya kita musti dealing with isu-isu sosial, ekonomi, dan politik ,secara yang kita treat tuh orang-orang yang hidup diatas satu daerah gitu kan. Keteknikan di Plano tuh biasanya seputar desain-mendesain kaya arsitek, tapi bukan 1 bangunan doang, ini 1 kawasan, misalnya yang kita desain tuh 1 ITB, atau 1 Jatinangor, dkk. Nah, masalahnya kita gabisa asal-asalan ngedesain, harus ada dasarnya, wicis si kebutuhan/kepentingan orang-orangnya ini, jadi biasanya kita juga akan ngelakuin tuh proyeksi-proyeksi kebutuhan, terus potensi ekonomi, dan macem-macemnya. Belom nanti kalo masterplan yang kita buat bakal dipake, wuh! Ada aja pasti yang kontra, biasalah. Life is already political. Apalagi di field ini. We gotta face it. Kebetulan gue kerja praktek di tempat yang politiknya kental banget. 3 kata: SERU BANGET loh! :) Gak ya? kata gue sih seru.

4. Ketahanan fisik dan mental

Kenapa banget? Oke, banyak yang bilang kalo plano tuh TI-nya sektor publik. Dimana banyak orang yang beranggapan juga ya berarti planner ya kerjanya dalem ruangan cukup, di belakang meja, pokoknya ga ke lapangan. Woi. Salah. Setiap semesternya kita ada matakuliah studio dimana kita pasti akan turun ke daerah yang mau kita “obrak-abrik” buat ngelakuin s-u-r-v-e-y. Dan gue harus akui survey ini SANGAT ASIK sekaligus melelahkan. Studio tapak, kita survey ke lahan yang mau kita jadiin perumahan misalnya, atau mau kita bangun theme park cem Universal Studios, atau kaya waktu itu gue mau bangun Sirkuit GoKart Internasional di Soekarno-Hatta, Bandung. Gue ama kelompok gue survey langsung loh ke lahannya, available apa enggak, sesuai apa engga sama peraturan-peraturan, bener-bener kaya developer. trus nih adalagi namanya Studio Kota, itu nanganin kota-kota kecil gitu, waktu itu gue ke Slawi, gila itu kota kecil banget dan nengok kiri sawah nengok kanan pasar nengok atas ada Allah. Seminggu deh survey disitu. Memorable banget deh parah~~ jadi kangen deh.

Truslagi nih, pas studio wilayah, gue ke Kabupaten Indramayu, gila itu nyurvey satu wilayah yang segede Jakarta! Masalahnya ini isinya cuman persawahan, tempat pelelangan ikan, ama jalur Pantura. Mamam! Ya gak semuanya sih sepi kaya daerah terlantar gitu, ada kok kehidupan, pasar, California Fried Chicken, dan macem-macem gitu deh. Dan lagi-lagi kita dilepas selama seminggu, ngewawancarain orang-orang disitu, trus liat-liat infrastruktur. Kesana-kemari membawa alamat, naik angkot yang cuman itu-itunya bentuknya Elf yang orang situ nyebutnye “ELEP”.

Ini dia Maket Tapak Sirkuit Gokart Internasional gue!! Seru yaaa :) TAPI bikinnya kagak tidur berhari-hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Trus satu lagi kenapa lo harus kuat fisik dan mental. Planologi gue akui gak susah. Yang susah adalah bagi waktu buat ngerjain tugas-tugasnya yang gila banyaknya. Semakin tinggi semesterlo, semakin sering lo nginep di kampus atau at least nginep di kosan temen lo buat ngerjain tugas bareng. Gue pernah loh 3 harian gitu gak pulang ke kosan demi ngerjain tugas. Wuh kalo ga kuat tinggal lambay tangan aja kali ke kamera ntar didatengin Heri Panca.

____

Gue rasa itu dulu deh, kalo tar ada yang mo gue tambahin tar kalo kurang bilang… Qeeyyhhhh?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 903 other followers