Reksadana Pertama Gueee!! — Cara-Cara Berinvestasi di Reksadana.

Waktu S1 (cie..), gue sempet ambil kuliah Financial Planning di SBM-ITB yang kerennya udah gak ngerti lagi. Ini kayanya satu-satunya kuliah di ITB yang bisa diaplikasiin secara nyata di kehidupan gue. Karena apa? Kuliah itu, yang bahasa Indo-nya “Perencanaan Keuangan”, lebih ngebahas persoalan keuangan personal terkait ke-BM-an kita (banyak mau) sebagai manusia.

Di kuliah itu (gue pernah ngepost sebelumnya di http://gemasatriams.wordpress.com tentang FP ini yang dosen tamunya bahkan financial planner dan selebriti twitter terkenal Ligwina Hananto @mrshananto), gue disadarin bahwa pemikiran kita buat memenuhi berbagai ke-BM-an kita itu di masa depan akan sulit banget dicapai hanya dengan menabung. Nabung interestnya berapa sih di bank konvensional, palingan cuma 3-4,5%. Sementara itu, inflasi setiap tahunnya membuat harga barang naik 6-11%. Bahkan harga rumah gue aja barusan gue itung sendiri inflasinya mencapai lebih dari 17%. Tabungan kita kegerus sama inflasi? Jelas!

Gambar di bawah ini, gue ambil dari FB Page-nya Commbank yang ngasih ilustrasi kenapa nabung di bank itu susah melawan investasi..

Image

Salah satu cara untuk “menabung dengan pertahanan melawan inflasi” adalah Investasi. Investasi ini tentu aja berbagai macam rupa bentuknya, bisa dari logam mulia (LM), properti, saham, dan yang gue rasa nggak begitu populer (seengganya di lingkungan gue sesama anak muda), reksa dana. Nah, reksa dana ini lah yang akan gue bahas kali ini. (soalnya baru pulang dari Commonwealth beli reksadana pertama nih :”) )

Kenapa sih dari sekian banyak jenis investasi, gue pilih reksa dana? Ya jelas aja, emas kalo mau paling murah tapi optimal palingan beli yang 10 gram, sekarang harganya 5jutaan. Properti, duh, belom mampu deh kayanya. Saham, ini aja minimal beli 1 lot harganya bisa 10 juta sendiri, belom nanti maininnya, gak ngerti. Nah, kalo reksadana, kaya di bank gue, Commonwealth bisa mulai dengan 100 ribu aja. Murah kan!

Image
Kalau bisa ngopi-ngopi 100ribu kenapa nggak bisa investasi?

Reksa dana nih sebenarnya sama aja kaya main berbagai jenis investasi tadi, tapi yang mainin orang lain (disebut Manajer Investasi/MI. Setiap 1 produk reksadana, itu isinya macem-macem. Misal gue beli Reksadana Saham “Otomotif Plus Istimewa (OPI)”, yang isinya Saham PT. Astra, Saham Toyota, Saham Honda, Saham Kymco, sama Saham Hyundai. Jadi otomatis, kalau kita punya reksa dana OPI, si MI ini akan mainin saham yang terdiri dari portfolio (kumpulan berbagai macam) saham-saham tadi itu, dan sekali lagi, MI yang akan mainin saham itu buat kita. Enak kan!

Ilustrasi bermain RD itu mirip sama main saham, kaya quote dibawah ini nih..

Misal kita akan taroh duit 1 juta di RD xyz, uang 1 juta itu akan di convert jadi “Unit Penyertaan” atau UP. (dalam bermain saham, UP = lembar saham, bedanya UP ini udah terdiri dari macem2 lembar saham kaya contoh RD Saham OPI tadi, berarti 1 UP tuh udah consist of lembar sahamnya PT. Astra, Toyota, dst..)

Kalo Harga (istilahnya NAB, Nilai Aktiva Bersih, atau sebut sajalah Harga) 1 UP itu Rp. 1000, maka uang 1 juta tadi akan jadi 1000 UP.

Berkembangnya uang kita ini diperoleh dari naik turunnya harga per UP tadi. Bisa jadi bulan ini 1 UP harganya Rp 1000, buldep Rp 1100, buldepnya lagi turun jadi Rp 900. dst. (yang optimisnya dari bulan ke bulan nilai 1 UP akan terus naik)

Reksa dana sendiri ada 3 jenis yang paling populer: Reksadana Pasar Uang (RDPU), Reksadana Campuran, dan Reksadana Saham (RDS). Apa bedanya, googling sendiri ya, soalnya udah berlimpah artikel yang ngejelasin tentang hal ini. Yang pasti, RDPU itu low-risk, sementara RDS itu high-risk. Dan ingatlah selalu quote ini kalau berinvestasi: High-risk High return Long-term, Low-risk Low return Short-term.

Pendek cerita, gue pilih jenis Reksadana Saham, karena profil resiko gue cenderung agresif (cenderung akan bersikap cukup tenang meskipun ngadepin resiko penurunan nilai saham), dan tujuan akhir gue berinvestasi ini (untuk beli rumah sendiri) masih lama banget kan.

Buat yang mau ngikutin gue untuk investasi di reksadana, gue mau bagi cerita sekaligus tips nih ya (pake framework financial planningnya CommBank):

1. Tentuin dulu tujuan investasinya apa
Kalo konsultasi sama Ligwina Hananto, dia pasti akan nanya paling pertama: Tujuan Lo Apa? (bisa dicek di situsnya dia: qmfinancial.com, bahkan ditulis gede disitu)
Karena meskipun uang kita tumbuh cepat, tapi tanpa arah, kita nggak bakal tau harus berhenti dimana, apakah kita merugi atau sedang untung, dsb. Selain tau mau apa, harus tau juga kondisi keuangan pribadi, jangka waktu dicapainya mau berapa tahun dari sekarang? Kaya misalnya gue nih ya:
-Pengen punya rumah dari uang sendiri
-Kira-kira 8-10 tahun lagi
-Asumsi inflasi 8-10% (ini liat aja di situsnya Bank Indonesia)
-Inginnya return reksadananya punya interest rate 45-50% dari uang yang di-invest (<<–ini agak gila sih, haha, nanti gue adjust lagi lah) (kalo ini ditentuinnya berdasarkan profil resiko, dijelasin di bagian berikutnya)

Data-data di atas harus determined dulu di awal, jadi jelas tuh kita di akhir masa invest kita akan punya uang berapa.

Image

2. Analisa kondisi keuangan (kata chart CommBank diatas)
Ya ini dikira-kira deh. Jangan sampe nih, kita keasikan invest tapi masih punya utang kartu kredit. Mau invest sekenceng apapun kalau masih ada hutang, susah men.
Di bagian ini juga dikira-kira kita mampunya nginvest berapa tiap bulan, atau tiap tahun. Soalnya kalo kita nggak sadar kemampuan, nantinya juga keteter, ujung-ujungnya investasi nggak disiplin, dan lagi-lagi kita kembali ke masa jahiliyah: berfikir bahwa nabung is the simplest and the best way.

Nah disini kita juga perlu tau soal profil resiko yang juga penting. Seenggaknya ada 3 jenis profil investor:
-konservatif
-moderat
-agresif

bedanya apaan? intinya dari atas ke bawah sih anaknya semakin woles sama fluktuasi harga saham/RD. Nah dengan begitu, kira-kira kita tau kan hubunganya antara profil resiko ini sama jenis RD. Kalo konservatif ya cocoknya paling sama RD Pasar Uang soalnya kan low-risk. Masalahnya, kalo orang konservatif dipaksa ikutan RD Saham yang high-risk dan fluktuasinya agak gila, bisa-bisa susah tidur tuh berbulan-bulan kalo ngeliat performa RD Saham yang doi beli merah terus alias negatif selama berbulan-bulan (padahal tren jangka panjang saham kan toh biasanya meningkat).

3. Membuat rencana keuangan
Daritadi sebenarnya kita udah ngelakuin tahap ini sih.

4. CARITAU! Produk reksadana mana yang bakal kita invest/beli?
Eyts, jangan buru-buru ke penjual RD dulu, tentuin dulu mau beli produk RD yang mana. Masalahnya, ada 700an lebih lho produk RD yang bisa dibeli di Indonesia. Reksadana nih ya sekali lagi sama kaya jenis investasi lainnya, rumah misalnya, rumah ada jutaan di Indonesia ini, ga seenaknya kita liat plang “DIJUAL” trus kita beli tu rumah buat investasi kan? Kita musti tau dulu, tu rumah pernah kebanjiran kagak, daerah sekitarnya aman kagak, atau lo liat sampingnya pantai apa bukan, kali-kali 10 taun lagi tu rumah udah kelelep gegara garis pantai yang mundur. hahaha..

Makanya ada quotes lagi (banyak bener nih quote nya ya buat investasi haha), invest your time first before you invest your money. Udah tau profil resiko sama kemampuan berinvestasi, sekarang kita perlu juga caritau mana produk reksadana yang bagus. Seengganya, kalo gue sendiri buat milih produk reksadana tuh berdasarkan kriteria ini:

-yang secara historis returnnya/interest rate-nya sesuai sama rencana.

Nah, ini yang paling gampang bisa diliat di http://infovesta.com, di situs itu udah dipampang tuh kinerja pertumbuhan tiap reksadana segala ada deh pokoknya. Sekali lagi, kita harus liat ki-ner-ja. Karena kinerja return ini yang biasanya angkanya dalam bentuk persen, ini yang bisa kita jadikan dasar untuk menghitung pertumbuhan uang kita ke depan. Tapi Dislaimer berlaku nih, kinerja yang terpampang tuh bukan berarti di masa depan akan segitu-segitu juga. Inget, semua investasi ber-resiko, jadi kalau kinerjanya ternyata menurun jangan salahkan infovesta atau blog gue ya hehe.. Seenggaknya informasi kinerja itu bisa jadi patokan awal aja sih buat ngarahin uang kita di invest kemana.

Kalau kira-kita kita udah jatuh cinta sama angka kinerja, coba dicari prospektusnya. Benda apalagi nih prospektus? Prospektus tuh intinya sebuah dokumen reksadana yang biasanya bentuknya udah soft-copy dan bisa didownload yang berisi semua informasi tentang reksadana itu. Mulai dari siapa sih MI-nya (bahkan dari prospektus gue tau yang mainin reksadana gue alumni ITB), terus proporsi penempatan dana kita di taroh di saham perusahaan mana aja (atau di instrumen investasi lainnya apa aja untuk RD Pasar Uang), sejarah awal RD itu terbit, daaan lain sebagainya.

-yang kompetitif dibandingin sama produk lain yang sejenis

misalnya lo bingung nih ada 2-3 produk RD yang lo taksir, abis dari infovesta.com, lo bisa ke situsnya Bloomberg karena disitu kita bisa liat grafik historisnya pake flash keren gitu, trus di-compare sama RD lain yang lo naksir. Bahkan grafik dari RD-RD yang lo taksir tadi bisa di-overlay jadi satu grafik supaya keliatan perbandingan pertumbuhannya. Nih contohnya dibawah ini..

Reksadana - chartpada grafik di atas ini, liat deh biru tua itu BNP Paribas, ungu itu Schroder Dana Istimewa, biru muda itu (gue lupa) kalo gak Manulife ya Mandiri. Lo pada bisa liat ya dari kiri ke kanan yang Manulife punya harganya hampir selalu di atas schorder ama BNP. Nah buat membantu memilih RD mana yang sebaiknya dibeli, CMIIW ya, menurut gue pilihlah yang grafiknya setiap habis turun selalu lekas naik. Atau cari yang grafiknya selalu menanjak naik, kalau bisa ngebalap garis grafik dari RD yang lainnya. Artinya apa, disini harga RD itu gak terlalu penting, tapi sekali lagi kita liat KI-NER-JA. Cari yang persenan kenaikannya tuh tinggi.

Di grafik di atas kita bisa liat sebenernya ketiga RD itu geraknya se-irama ya. Ya barangkali karena tiga-tiganya sejenis: RD Saham. Jangan kaget kalo misalnya lo bandingin antara RD Saham sama RD Pasar Uang misalnya. Jelas RD Saham bakal grafiknya naik lebih cepet daripada RDPU. RDPU harganya kan lebih stabil cenderung lempeng-lempeng aja persenan kenaikannya kecil, tapi… aman, kemungkinan grafiknya turun juga lebih kecil dibanding grafik RD saham yang gradakan gitu (naik turun terus hampir tiap hari)

Buat cari tau juga, bisa nih di googling pake keyword misalnya : peringkat reksadana tahun 2012. Biasanya peringkat RD naik turunnya gak berlebihan sih (AFAIK), tapi coba-coba aja di cek. Dan jangan pesimis dulu juga kalo ternyata RD yang lo taksir ga ada di list.. hehe..

5. Pergi ke penjual reksadana (implementasi)
Sama kaya kita invest di emas, pergilah ke toko emas atau Antam. Atau kalau beli rumah, pergi aja ke sejenis Ray White, Colliers, Era, dkk..

Bedanya, kalau RD ini kita bisa ke dua bentuk agen. Bisa langsung ke MI-nya (yang biasanya bisa kita temuin yang ada namanya sekuritas-sekuritas. Mandiri sekuritas, panin sekuritas, Bahana TCW, Valbury, yang gitu-gitu lah pokoknya), atau bisa juga ke Agen Penjual yang biasanya sih bank. Gatau sih bedanya apa kalo langsung ke MI atau lewat Bank. Tapi setau gue ke MI langsung malah lebih ribet. Karena gini, MI tuh ga pernah megang duit lo, mereka cuman mainin, duit lo itu ditarohnya di bank (disebutnya Bank Kustodian). Banknya khusus lagi pilihannya si MI. Misal lo langsung ke Bahana TCW /sekuritas, bank-nya dia kalo gasalah Deutsche Bank, jadi lo harus transfer ke DB, trus lo faks buktinya, duhh ribet. Sebenernya, agen juga ada yang ribet sih, tergantung layanannya, kaya Bank Mandiri kalo lo mau beli RD harus banget dateng ke banknya, gak bisa beli online, harus isi formulir dst dst.. setau gue loh ya..

Nah kalau gue sih perginya ke agen, namanya Commonwealth Bank. Bank dari aussie ini terkenal buat investasi karena murah, bisa start dari 100ribu/bulan, dan bisa beli reksa dana online via internet bankingnya. (soalnya tadi kan kalau beli langsung di MI katanya sih ribet karena harus ngefaks ini itu, nanti dikirim lewat pos atau pakai kurir lagi. Meh! Ribet.)

Nah, untung aja nih, deket rumah ada Branch CommBank. Gue butuh 2 hari buat bisa invest reksa dana di situ. Kenapa? Karena gue pas hari pertama belom punya NPWP. Aplikasi gue ditolak deh. Jadi pelajaran nih ya buat semuanya, hari gini ternyata kalau mau punya reksa dana harus punya NPWP. Makanya, hari pertama itu gue cuma berhasil buka account tabungan biasa aja di sana. Hari kedua baru deh gue bisa buka reksa dana karena NPWP nya udah ada (btw, NPWP bikinnya ekspress banget! 10 menit doang jadi!)

6. Monitor & Evaluasi
Gih deh download aplikasi bloomberg, kan hp sekarang udah pada Android, iOS, BB, bisa lah ya mantau naik turunnya harga reksadana.  Bisa juga pergi ke situsnya majalah Kontan, lebih enak diliatnya karena sekalian bahasanya yang Indonesia, dia nampilin harga tiap unit reksadana yang punya kita setiap hari dan historisnya dicatet lengkap sama dia. (Y)

Nah pertanyaannya, kalo kita mau “top-up” RD kita gimana tips dan caranya?

Istilah “top up” itu mirip sama kaya kita top up pulsa hape. artinya kita nambah pulsa di nomer hp kita, kalo di RD kita nambah uang di account RD kita.

nah persoalan “top up nya mau berapa” itu terserah kita karena toh masukin uang ke RD itu sama dengan nabung kan? ya kalo punya rejeki lebih misal gajinya naik ya terserah juga mau dipake buat tambaham pos pendidikan anak, atau bahkan pos nongkrong mingguan atau buat pos tabungan?

Ini dia 3 cara invest di RD. Gue lupa sih istilah-istilahnya. Tapi kurang lebih gini:

1. Lump-sum
wicis lo taroh duit gede di awal dan lihat dia berkembang terus mengikuti pasar. Resiko nya, kita beli waktu harga per unitnya lagi tinggi (we call this NAB/Nilai Aktiva Bersih/Harga per Unit). Tapi gue rasa no matter sih.

2. Ngikutin cara main saham
cara ini mesti jeli liat kapan RD harganya naik. Kapan RD turun. Simpelnya, waktu naik bisa kita jual, waktu lagi turun silakan beli. Tapi ini harus disertai kemampuan liat pasar. Masalahnya RD kan nggak kaya saham yang harganya bahkan bisa naik turun tiap menit. Resikonya: salah beli, tau2 belinya pas NAB nya lagi mahal.

3. Dollar Cost Averaging (DCA)
cara paling moderat (dan paling disarankan) buat beli RD dan resikonya (katanya sih) paling minim. Periodically tiap bulan di tanggal tertentu, atau terserah mau setiap apa pokoknya harus di waktu yang kurang lebih sama (misal 2 bulan sekali). Nggak terpengaruh apakah NAB lagi tinggi atau rendah. Karena ketika kita beli pas tinggi, nilainya akan ter-rata-rata-kan. Misal pas kita beli harganya lagi tinggi, agaknya rugi dong ya itu. Tapi bulan depan kita beli lagi pas harga NAB nya rendah. Kerugian kita di bulan lalu tersubsidi kan dengan keuntungan kita di bulan ini (dari harga rendah tadi). Cara bermain RD inilah yang kemudian mendorong adanya fitur Auto Invest/Installment/Debet supaya tiap bulan kita gak usah ribet utak atik internet banking karena otomatis kepotong dari tabungan kita buat beli RD.

Balik lagi, itu pilihan aja sih. Persoalan bakal beda lagi kalo ada istilah Auto Invest atau Auto Installment (atau istilah lainnya), sekali lagi ini HANYA FITUR perbankan aja supaya kita nggak repot2 tiap bulan buka internet banking atau menghubungi bank untuk sekedar top up account RD kita (udah kerasa bedanya antara istilah2 itu?)

____________________

Baiklah, rasanya cukup ya, maaf kalo njelimet dan sotoy. Asli deh gue juga masih newbie banget. Ini juga gue punya reksadana karena pengen realisasiin pengetahuan aja, bahkan gue udah bikinin financial planning-nya asisten dosen gue di kampus dan nyuruh doi ber-reksadana, masa guenya engga sih. hahah. Selain itu, gue juga baru sekali beli reksadana, mudah-mudahan kuat terus berinvestasi dan bulan-bulan seterusnya (sampe rumah gue kebeli aminnnnnn), gue bisa terus ngasih makan reksadana gue itu. hehe..

Kalo ada yang mau request gue jelasin apa gitu, sok mangga ya, kalo ada yang belom jelas juga sok ditanyain.. :D


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,148 other followers