Cerita Usus Buntu part 2: Apa!? Operasi malam ini juga??

4 Jam perjalanan Bandung-Jakarta, gue hanya bisa tidur sekitar 10 menit karena sakit di perut kanan bawah ini udah gak tertahankan. Sampai di pool Citilink Kelapa Gading, hujan mulai turun gerimis, dan berdasarkan sms, Mobil nyokap udah menunggu dari jam 5 dekat bangunan pool. Tas ransel gue yang besar udah gak sanggup lagi gue pikul akhirnya gue tenteng sambil nyari mobil. Ah itu dia Rush silver gue! Tas ditaruh di jok belakang, dan susah payah gue naik ke jok depan. Mobil mulai bergerak, gak lupa kangen-kangenan dulu sama nyokap. But, Damn! Kenapa seluruh jalan bahkan Kelapa Gading – Rawamangun aja juga macetttt! Arghh abnormal!

Saat itu gue tau gue harus segera ke Rumah Sakit, tapi karena 2 hari semenjak Rabu yang gue makan hanya separuh bungkus bubur dan roti sobek sari roti, gue minta nyokap untuk cari bubur dulu baru ke Rumah Sakit. Bubur cap “Favourite” di Rawamangun biar kata enak juga tetep aja susah ditelen. Sama sekali gak nafsu makan. Sebenernya tujuan gue minta bubur dulu sebelum ke RS adalah karena gue takut dimarahin dokter karena gak makan sesuatu yang berarti selama 2 hari.

Singkat kata, akhirnya tepat jam 20.30 lagi-lagi gue masuk UGD, kali ini di RS Dharma Nugraha. Gue senang sama Rumah Sakit ini, pelayanannya serba cepat, dan dokternya manis (yang melalui ngobrol diketahui bahwa suaminya Alumni ITB anak Mesin). Darah gue kembali diambil dan di tes. Dan benar, malam itu leukosit gue udah meningkat jauh diatas normal tanda usus buntu gue memang bermasalah. Saat itu juga dokter bedah langsung dipanggil, dan saat itu juga pertama kali gue ketemu dokter yang akan menangani gue seterusnya, namanya dr. Tony Sukendro, Sp.B. Tiba-tiba dia datang dari balik tirai-tirai di UGD masuk ke bilik gue, “kenapa ini?” perut gue dipencet-pencet dan gue ceritakan semuanya (yang ada di part.1). Dr. Tony bilang lagi, “hmm oke kalo gitu malam ini langsung dirawat aja ya!”, “hah? Dirawat? Di-opname, Dok?”, “Enggak! Di operasi MALAM INI”. APA!? OPERASI?? MALAM INI?? Air muka gue langsung berubah lagi-lagi persis seperti ini –>😦

Yang gak habis pikir adalah, kenapa banget harus tengah malem di operasi!? Gak ada persiapan mental ini woi. Seperti biasanya dr. Tony selalu seperti orang terburu-buru. Dia ngomong kata “Malam Ini” sambil ngacir keluar bilik dan terdengar di luar dia bicara sama nyokap. Nyokap bilang, “dioperasi malam ini dok?”, “ya, sekitar jam 12 malam ya. Suster tolong siapkan (istilah kedokteran, cmiiw yang kata suster artinya operasi emergency) con sito!”, “sebelum kesini dia tadi makan bubur dulu dok”, “ooh, kalau gitu sekitar jam 1 atau 2 pagi aja, tolong puasa dulu ya jangan makan dan minum sebelum operasi”.

Nasib oh nasib..

Suster dan Bruder (sebutan perawat cowok), rame banget langsung berdatangan ke bilik gue di UGD, ada yang masang alat rekam jantung, ada yang ngambil darah lagi, ada yang masang infus. MASANG INFUS!? Ini adalah hal yang paling bikin gue selalu takut kalau sampai harus masuk rumah sakit. Infus kan jarum yang nancep terus berhari-hari tanpa dicabut. Gue gak takut sama darah, tapi gue selalu takut liat jarum nancep di badan, atau bagian badan di iris, atau benda-benda asing masuk di lubang-lubang yang gak proper atau nancep di badan itu… frustrasi!..

Segera setelah itu, gue dipindah dari UGD ke ruang rawat inap di lantai 4. Jalan gue udah susah karena gak kuat nahan sakit di usus buntu sehingga akhirnya pakai kursi roda. Dan sampailah di Ruang 412. Dari 4 tempat tidur yang ada, Cuma ada 1 orang namanya mas Herman dan gue adalah satu-satunya penghuni lainnya. Gue mencoba tidur, tapi gak bisa, nervous ini udah meraja lela, dan akhirnya nonton tv. Sedikit-sedikit gue liat ke arah jam dinding diatas pintu. Tepat jam setengah 1 malam, suster datang lagi bawa kursi roda.. oh no, this- is- it.. “Tuan Gema, silakan ganti baju dari rumah sakit dulu ya..(sambil ngasih piyama)”

Deg.. deg..

Kursi roda di dorong, pintu lift terbuka, suster menekan tombol angka 2..

Deg..deg..

Pintu lift terbuka.

Gak jauh dari sana, sampailah gue didepan pintu ruangan ICU dan Operasi. Diatas Pintu ada 3 buah lampu berwarna Biru, Kuning, dan Merah, yang masing-masing bertuliskan “Sterilisasi”, “Siap”, dan “Operasi”. Saat itu lampu Sterilisasi yang menyala. Persis di sinetron-sinetron, gue didorong masuk ke dalam pintu, dan nyokap ditahan diluar sambil susternya bilang “Ibu silakan tunggu di luar ya”. Dalam hati gue, ya ampun, kasian nyokap gue sendirian, adek gue di Depok, Bokap gue entah di luar kota..

Di dalam ternyata berupa lorong dan ada 4 ruangan besar, 3 ruangan operasi, dan 1 ruangan ICU. Di ujung lorong ada bilik dan tirai yang rupanya buat persiapan pasien sebelum masuk ruangan operasi. Gue ditaruh disitu, dan disuruh tiduran. Lamaaa banget rasanya dengerin suster-suster pada ngerumpi sambil nyiapin menyiapkan ruang operasi sampai-sampai gue sempat ketiduran

Akhirnya waktu yang dinanti pun tiba tempat gue tidur pun di dorong masuk ke ruang operasi. Arghhh semuanya pakai baju hijau-hijau, ini ruangan apaa. Di dalam, gue ga disuruh tiduran, tapi disuruh duduk bersila diatas meja operasi. Gue diberi bantal, “nih dipeluk ya”. Gue tau ini pertanda proses berikutnya pasti akan sakit, dan sesuai ekspektasi gue dari hasil browsing di internet, gue mendengar dokter anastesi berkata “bius spinal”  yang artinya bius di tulang belakang.  Dokternya bilang “sebentar yaa ini agak sakit”. Gue pikir sakitnya akan super giga sakit karena gue membayangkan tulang belakang WOY di suntik, rupanya sakitnya seperti disuntik biasa, benar-benar seperti digigit semut. “wadoh meluk bantalnya erat banget ampe gemeteran” , “takut sakit dok”, “udah kok, sekarang tiduran lagi ya”. Suster-suster langsung menset-up sejenis tirai mini diatas dada gue sehingga gue gak bisa lihat apa yang mereka lakukan dengan perut gue

Sampai detik ini, gue belum liat lagi dr. Tony. Tiba-tiba kaki gue kesemutan, mulai dari perut sampai ke ujung jempol tiba2 terasa tebal. Gue ga bisa ngangkat kaki! Ini sesuai dengan apa yang pernah ditulis di blog orang yang pernah operasi usus buntu. Biusnya regional, Cuma dari perut sampai ke ujung kaki. Kebayang kan gimana horornya perut lo diobok-obok sementara diri lo sadar.

Dokter anastesi ngomong lagi sama gue, “mau ngobrol atau ditidurin (maksudnya mau biusnya diterusin sampe tidur atau enggak)?”, “saya takut dok, ngobrol aja kali ya, saya pernah nonton film Awake, orangnya dibius sampe tidur tapi masih kerasa perutnya disayat-sayat”, “ah kamu kebanyakan nonton film”.

Harusnya dokternya gausah pake nanya, karena ujung-ujungnya gue tidur juga. Di awal gue menjelang tidur itu, entah kenapa rasanya otak gue seperti memberontak untuk tetap sadar, dan gue yakin gue inget gue berteriak “Ini konspirasi! Ini persekongkolan!”. Sampe sekarang gue ngerasa goblok banget kalo sampe bener iya gue teriak-teriak kaya gitu waktu mau dioperasi..

dari http://ardipsikologi.blogspot.com/2010/02/perawatan-dan-bedah-pada-intervensi.html

Pada saat ini pasien berontak, ia berusaha melepaskan kap bius, berteriak, berbicara, menyanyi, ketawa, atau menangis. Keadaan berontak ini dapat dicegah bila sebelum pembiusan di mulai, sudah diberikan pengertian dan di minta pada pasien agar menghirup obat bius sedalam-dalamnya dan bila mencium bau yang tidak enak, jangan berontak.

ini mungkin yang bikin gue teriak-teriak “ini konspirasi!!” hahaha,,

Diluar, dr. Tony nemuin nyokap dan bilang, “Ibu, berdoa ya, saya akan mulai..”

Nyokap gue harap-harap cemas luar biasa karena efek kata ‘berdoa ya’ itu semacam ada sesuatu yang gawat dari operasi gue..

dan Lampu ‘Operasi’ warna kuning menyala tepat pukul 1 pagi,

To be continued..


4 Comments on “Cerita Usus Buntu part 2: Apa!? Operasi malam ini juga??”

  1. Tari says:

    Gilaaaa gilaaaaaaa lusa gw mau operasi usus buntu. Baca ini makin nggak bisa tidurrrr😐

    • gemasatria says:

      tenaang! nggak sakit kok. kan tidur! hehe. Justru gue nulis post ini buat yang mau ngejalanin op appendisitis atau baru aja ngejalaninnya lebih tenang dan tau apa aja yang bakalan dihadapin🙂

      lagipula yg gue post ini worst case karena appendix gue udah parah banget jadi harus op laparatomy alias op buka perut.

      kalo nggak parah palingan sodetannya cuman 2-5cm aja.

      Semangat! Share ya kalau udah🙂

  2. rizka says:

    liat blog lu bang akhirnya ngerasain sendiri kena usus buntu -_-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s