Solo, The Spirit of Pursuing Higher Education (Part 1)

Hari ini, gue pergi ke pameran Tugas Akhirnya sahabat gue semenjak ketemu di bimbel Bintang Pelajar, Sartom, S.Sn. Ya! Dia sekarang udah jadi Sarjana Seni, bangga dan amazed nya gue adalah pamerannya itu lho, TA-nya real dan bisa diliat, ga kaya TA gue yang pamerannya paling lewat seminar atau konferensi dan sekarang teronggok di perpus. Haha. Sekali lagi selamat ya, Sartom! Ditunggu pameran-pamerannya yang lain🙂

Nah, pamerannya itu diadain di daerah Dago Pojok, Bandung, yang menurut gue udah sangat identik sama temen gue Indra Maulana, anak Fikom Unpad, yang kosan dan kampusnya semuanya di Dago Pojok. Sekalian karena gue belom makan, gue ajaklah dia makan. Di tempat makan, doi nunjukin satu video yang gak berenti bikin gue senyum dan ketawa karena emang kocak sekaligus educational tentang wisata di Yogya. Dan gue langsung dong teringat sama perjalanan gue ke Solo sejak sabtu malam (12 Jan) sampe akhirnya gue kembali tadi pagi di Bandung (16 Jan). Ketemu sama di Indra dan nonton video yang dia share ke gue bikin gue semangat buat ngeblog tentang pengalaman gue di Solo kemarin jadi muncul, tadinya gue agak mager sih nulis panjang begini karena mau siap-siap besok pagi ke Jakarta. Tapi inilah dia sedikit pengalaman 3 hari gue di Solo yang cukup remarkable!

Mungkin lo-lo semua beberapa udah pada tau ya karena gue update terus di Path yang connected ke Twitter tentang petualangan gue disana. Niat awal gue disana sebenernya bukan buat wisata, tapi buat ngisi acara seminar dimana gue jadi pembicara. Gue sendiri sampai hari ini masih sedikit overwhelmed sama perasaan “Wow, gue jadi pembicara loh di kota orang!” hehe. Thanks to Forum Indonesia Muda yang karena keikutsertaan gue di dalamnya, Wijaya Kelana (Paguyuban anak Solo di ITB, yang ngadain acara seminar itu) mempercayakan gue untuk berbicara di depan ratusan adik-adik SMA yang saat ini lagi berjuang buat masuk ITB.🙂 Nih, Poster acaranya..

Poster Acara dimana gue jadi pembicara

Alhamdulillah, perjalanan gue kesana sebagiannya ditanggung sama Widyakelana terutama Tiket Kereta PP dan makan-makan di hari minggu. Nah, kenapa gue bisa malah jadi wisata ke Solo, karena gue selama liburan ini emang ngededikasiin diri gue untuk liburan di Jakarta. Setahun belakangan ini gue terlalu lama di Bandung karena berbagai kesibukan, dan 1/12 dari 2012 pun yang harusnya gue liburan pasca-TA di Jakarta buat berbakti sama nyokap gue di rumah malah gue habisin di Tarakan, Kalimantan Timur (pada saat itu, sekarang, Kalimantan Utara). Awalnya, tiket kereta yang mau mereka beliin adalah tektok, alias pulang pergi di hari yang sama. Gue rasa kesempatan ke Solo gratis ini perlu ditambah valuenya dengan nambah waktu stay gue di sana. Akhirnya, gue minta temen-temen Wika untuk beliin tiket pulang hari Selasa (15 Jan) instead.

By the way, ketika gue dihubungi sama panitia dari Wika (singkatan Widyakelana), yang kocak adalah, mereka meminta gue jadi pembicara karena gue alumni Forum Indonesia Mengajar. Padahal jelas FIM itu stands for Forum Indonesia Muda. Valentina, anak Planologi ITB yang waktu itu jadi LO gue terangin kalo FIM sama Indonesia Mengajar itu beda jauh. Dan dia bilang, “Gak papa deh kak, yang penting inspiratif ceritanya”. Hahaha, alhamdulillah lho kalo gue katanya inspiratif. Di TOR (term of reference, atau garis besar materi yang diminta panitia untuk sampein pas seminar nantinya), gue diminta untuk memotivasi adik-adik SMA se-Solo Raya supaya lanjut ke perguruan tinggi karena dinilai motivasi mereka rendah dalam hal ini. Waktu itu gue mikir, iya apa? Perasaan banyak deh yang mau lanjut kuliahTernyata, masalah minder kenapa sih gue harus kuliah? tuh bener-bener mereka hadapi karena berbagai alasan, kesulitan ekonomi, tuntutan lainnya, dan yang paling gue gak bisa terima adalah, (dari cerita temen-temen Wika), ada beberapa adik SMA yang nggak minat kuliah karena minder sama persaingan masuk ke PTN, kaya yang “mending gue masuk PTN yang biasa-biasa aja deh, toh otak gue nggak mampu buat masuk kesana dan ketika ada disana”. Sedih? Iya, gue sedih banget dengernya. Hal itu terus bikin gue ngerti, bahwa beda konteks kehidupan sama yang mungkin gue dan temen-temen punya sekarang udah berhasil melemahkan energi beberapa dari mereka untuk nggak mencapai mimpi yang setinggi-tingginya.

Adik-adik SMA dari berbagai penjuru Solo Raya pas Seminar di SMAN 4 Solo

Thank god, dengan penuhnya ruangan seminar sampai-sampai kursinya nggak cukup, dan air muka yang, menurut gue, cerah, rasanya gue tertulari antusiasme dan rasa penasaran mereka, setidaknya yang ada di ruangan itu, tentang gimana sebaiknya yang mereka lakukan sekarang untuk bisa masuk PTN impian mereka atau sebut saja.. ITB..

Acara ini, yang gue harap setidaknya bermanfaat buat adik-adik SMA itu, ternyata udah berhasil ngasih gue semacam, entah apa namanya, impresi, pandangan yang berbeda, atau apalah yang intinya gue belajar sesuatu dari momen ini. Pertama, adik-adik SMA itu sejauh pengamatan gue sambil lalu ternyata punya semangat dan angan-angan yang tinggi supaya bisa masuk ITB. Satu kejadian menarik yang perlu gue share disini, setelah gue selesai bicara, dan acara ditutup, ada 3 cewe SMA yang kalo gasalah dari SMA Krejo di Kabupaten Karanganyar (sebelahnya Kota Solo), tiba-tiba mendekat ke gue, “Mas, minta foto bareng dong, buat kenang-kenangan nih kita kan udah jauh-jauh dari Krejo..”. Gue ketawa karena, “ya ampun gue kaya artis ya.. haha, oke ayo..” dan gue sama Agung (temen gue anak Planologi 2006 yang juga jadi pembicara di seminar itu selain gue) akhirnya foto bareng sama mereka. Setelah foto, mereka cerita kalo di sekolah, mereka dan beberapa temen mereka punya mimpi dan tekad yang kuat supaya 2013 ini mereka bisa jadi yang pertama dari sekolah mereka untuk masuk ke ITB. Gue terbakar semangat mereka yang tiba-tiba berubah warna apinya karena cerita mereka berikutnya. “Tapi mas, waktu kita bilang gitu ke guru kita tentang ini, dia malah ketawa dan bilang ‘kamu tuh udah deh jangan mimpi masuk ke ITB'”, kata mereka. Api semangat gue yang tadinya mungkin warnanya merah menyala berubah jadi ungu (kenapa warna ungu ya? ga ngerti deh gue, haha.. tapi kayanya deket deh sama simbol sedih campur kesel). Kalo gue lagi depan gurunya mereka dan lepas kendali, gue bisa aja teriak, “MEN! Apa-apaan sih lo!” anak udah semangat bukannya didukung malah demotivating.

Satu contoh hidup, populer, dan hipster, yang juga gue share ke anak-anak itu di materi seminar gue adalah, kita perlu contoh Agnes Monica, dan Pak Habibie (ini juga gue adaptasi dari materi seminar NGT-nya sahabat gue, Alvian Chris Pradana, yang disampein pas seminar himpunan gue di Lembang). Agnes Monica deh, she knows what she want to be (a world class singer), she invests her time for that. Bahkan setau gue dia nggak lanjut sekolah sekarang, yang gue pikir ada benernya juga, untuk jadi penyanyi kelas dunia, apa perlu sekolah tinggi-tinggi? Mendingan belajar nyanyi, fitness, dan lain-lainnya yang lebih mendukung tujuannya kan. Satu pelajaran yang gue sampein ke anak-anak itu di Solo, bahwa kalau kita perlu tau tujuan kita di masa depan, dan kita juga perlu tau, tindakan-tindakan apa yang perlu kita lakukan untuk mencapai tujuan itu.

Berhubungan nih sama cibiran guru anak-anak itu, gue juga kasih tau mereka tentang gimana si Agnes sebagai contoh populer ngadepin cibiran yang sama waktu dia bilang mimpinya di infotainment bahwa dia mau Go International dalam karirnya dia itu. Selengkapnya bisa di tonton di video di bawah ini waktu Agnes pidato di acara Global Youth di Bali.

Agnes Monica, yang Muda dan Menginspirasi.

Intinya, sama anak-anak Solo itu, dan kalau ada anak dari daerah lain manapun yang merasa demotivated karena alasan minder atau merasa nggak mampu, bahkan dicibir sama orang lain hanya karena lo mengekspresikan mimpi lo (terjadi aja belom), gue, meskipun dengan mudah ngomong begini, meminta kalian untuk bulatkan tekad dan jangan pernah runtuh semangatnya.

Kedua, gue iri sama paguyuban Wika, yang walaupun mereka udah sekolah di ITB, yang artinya sebagian besar pikiran mereka udah tertambat kuat di Bandung, mereka masih punya spirit yang hebat banget untuk ngadain acara ini di kota asal mereka. Kesolidan mereka keliatan dari banyaknya jumlah panitia yang ada di sana. Gue bilang ke Agung, “Gung, liat deh anak-anak berkaos panitia ini, mereka tuh yang sehari-hari kita liat di Bandung lho, dan disaat liburan gini, kita ketemu anak ITB sebanyak ini di kota lain ngadain acara begini, mereka keren ya”. Sedikit dari hati gue bilang, coba aja ya Jakarta punya paguyuban sejenis ini, jumlahnya aja jauh lebih banyak dari daerah lain (kecuali jumlah anak Bandung di ITB), tapi ga ada tuh acara beginian.

Salut sama anak-anak Widyakelana!

____________________________

Di seminar itu, ada empat poin yang gue sampein:

1. Bekerjalah sesuai dengan Passion
2. Tau tujuan
3. Tau apa yang harus dilakukan untuk tujuan akhir itu
4. Tekad!

Bekerja sesuai passion bakalan ngebantu kita untuk dengan mudah kembali perform setelah kita down. Tau tujuan dan tau apa yang harus dilakukan membuat kita tidak hilang arah dan tau ketika kita sedang melambat atau melaju terlalu cepat. Hidup harus seimbang, Men!. Dan Tekad, hal terakhir nih yang gue rasa kurang ada di anak-anak Indonesia. Sorry to say bukan bermaksud rasis, tapi gue belajar, inilah yang jadi kunci suksesnya temen-temen kita keturunan cina yang gue liat ketika dulu SD atau SMP gue ikut kursus/les ini itu. Berdasarkan observasi gue, anak-anak cina selalu punya determination yang tinggi atas apa yang mereka kerjakan. Kalo udah kecebur, ya harus basah dari ujung jempol kaki sampe ujung rambut, ya harus jadi yang terbaik. Gak heran kalo yang yang pinter-pinter, meskipun secara proporsi cina di Indonesia lebih sedikit tapi yang stand out dan signifikan prestasinya mereka juga gak kalah banyak. Salut!

______________________________

Dari sini kita harus belajar fren. Barangkali kita lebih beruntung daripada temen-temen kita yang lain. Gadget berlebih. Effortlessly barangkali ada di antara kita yang dengan gampang gonta-ganti blackberry, punya komputer tablet, atau bahkan semua barang lo berlogo buah apel, tapi lo nggak perform atau menjadi yang terbaik di bidang lo. Ada yang salah tuh, men!

Harusnya modal berlebih outputnya juga lebih. Hukum fisika juga udah bilang, W = F.s, atau Usaha berbanding lurus sama gaya dikali arah, atau rangkum aja perkalian gaya dan arah tadi dengan nama “Hasil”. Singkatnya, Usaha berbanding lurus sama Hasil. Jadi kalau hasil dan capaian-capaian dalam hidup kita nggak signifikan, hidup begitu-begitu aja, padahal modal, fasilitas, dan kemudahan ada dalam genggaman, berarti usaha kita belum maksimal. Kita seharusnya malu sama berbagai kemudahan yang kita punya kalau hasil yang kita peroleh nggak remarkable.

___________________________

Di Solo, gue nginep di tempat temen gue namanya Yoga. Suatu waktu pas makan malem tiba-tiba obrolan kita jadi serius karena ngomongin beberapa hal yang salah dalam hidup ini. Satu bagian, obrolan kita sampai ke topik justifikasi, atau pembelaan atas perbuatan salah di hidup kita ini. Gue pribadi berpikir, justifikasi itu normal dan alami dari manusia. Tapi suatu siang di Solo itu juga, tepatnya di Cafe Tiga Tjeret pas gue nunggu dijemput Yoga abis jalan-jalan di Keraton Mangkunegaran, gue baca tulisannya Dale Carnegie di e-book yang gue bawa kemana-mana kalo yang namanya justifikasi meskipun alami tapi sifatnya futile, atau nggak produktif. Kenapa? Gue berlogika sendiri sih, kalo memang pembelaan ini akhirnya membuat diri kita untuk lowering our standard in achieving. Nah, inilah yang terus jadi persoalan, kalo standar kita turun, atau bahkan turun terus karena pembelaan kita lakuin berkali-kali, kapan kita sampe ke mimpi kita yang tinggi itu?

Gue nggak tau apakah istilah ini ada atau enggak, gue rasa yang boleh kita lakukan tuh namanya adjustification. Dalam ilmu rencana manapun, mau rencana kota kek, financial planning-nya Ligwina Hananto kek, tujuan kita tetap, tapi yang perlu di adjust (=sesuaikan) tuh effort atau usahanya untuk sampe kesana. Kalo kita merasa lambat, ya dipercepat (makanya ada yang namanya MP3EI a.k.a masterplan perluasan dan percepatan pembangunan…), kalo kita merasa terlalu cepat sehingga hidup kita nggak seimbang, perlu kita liat lagi, positif atau negatif nggak tuh dalam artian kita jadi nggak seimbang hubungan kita ke Tuhan atau ke lingkungan sekitar misalnya jadi lupa keluarga waktu kita ngejar cita-cita kita.

Intinya, bukan standar-nya yang kita adjust, tapi usaha kita itu lho yang harus di-adjust kalo kita udah punya cita-cita.

______________________________

Tulisan ini cuma tulisan blog, tapi dengan optimisme sosial media hari gini, gue harap seenggaknya bisa ikut sharing tentang manfaat dan pemikiran gue yang singkat selama 3 hari di Solo kemarin, tentang Spirit anak-anak Solo, baik anak-anak Wika yang dengan niatnya ngadain wadah sharing tentang PTN maupun adik-adik SMA yang punya semangat untuk masuk PTN. Barangkali, Solo dan jargonnya The Spirit of Java, juga harusnya dibarengin aja sama jargon The Spirit of Pursuing Higher Education. hehe..

Gue yakin, kalo anak Indonesia punya tekad yang kuat untuk maju, impian Indonesia Maju, atau Indonesia Mengglobal itu pasti bakalan tercapai nggak lama lagi. Tinggal kitanya aja, untuk nambah energi, nambah usaha kita untuk sampai kesana. 🙂

________________________________

tulisan berikutnya bakalan seputar sharing wisata selama gue di Solo, nantikan ya! hehe


One Comment on “Solo, The Spirit of Pursuing Higher Education (Part 1)”

  1. Ahmad says:

    makasih kang Gema sudah berbagi pengalaman saya jadi semangat lagi menjalani tantangan hidup


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s